11.5.14

22 Desember 2012

Judulnya kok flashback ya?  :D
Ada apa dengan tanggal 22 Desember 2012? Oke, saya punya memori manis pada tanggal tersebut. 22 Desember adalah Hari Ibu Nasional. Nah, tahun 2012 lalu saya ikut menulis surat untuk Ibu. Yang di adain oleh Fakultas Ekonomi Unsyiah. Saya ga tau pasti jumlah pesertanya berapa orang. Karena saya tahu info ini tepat 2 hari sebelum deadline. Jadi, kejar-kejaranlah dengan Deadline. Tapi, alhamdulillah usaha tidak sia-sia. Semua membuahkan hasil. Alhamdulillah saya masuk nominasi 3 besar.  Alhamdulillah.(:
Oya, yang pasti saya tidak akan lupa mengucapkan terima kasih kepada kawan ini. Cut Sari Maylisa adalah salah satu kawan yang berjasa, telah mencoret-coretan tulisan ini.. Meskipun hanya sekali.. tapi itu juga cukup membantu.. Terima kasih cioo.. ^^

Berikut Puisi Saya persembahkan untuk Mimi (Ibu).


SEPUCUK SURAT UNTUK IBUNDA TERSAYANG

Salam, Teruntuk ibunda tercinta...
Masa itu...
Aku masih amat teramat kecil. Masih ingatkah engkau Ibu ? kala itu, aku sangat egois, sering mengeluh, menjengkelkannmu bahkan mengganggu banyak kegiatan-kegiatan yang sangat berharga dalam hidupmu. Aku masih ingat dengan kejadian ini, jika engkau hendak pergi ke sebuah acara bersama Ayah, aku datang  mencegahmu untuk tidak menghadiri acara tersebut, karena bagiku itu tidak penting!!, beribu-ribu alasan yang Ibu dan Ayah tawarkan untuk membujukku agar aku mengerti. Tapi, alasan itu tak juga aku hiraukan. Selanjutnya, apa yang terjadi ? Dengan sangat sabar ibu.. Setelah aku mencegahmu, engkau malah melelapkanku hingga aku benar-benar tertidur pulas. Setelah engkau yakin aku benar sudah terlelap, di saat itu lah engkau baru akan berangkat. Dahulu, kita banyak menghabiskan waktu bermain bersama. Engkau banyak menceritakan padaku tentang menjadi orang sukses dunia akhirat, dan juga tidak sedikit engkau mencontahkan mereka-mereka yang telah menggapai itu semua.
Beranjak masa-masa Remaja, aku mulai belajar banyak hal dan sudah bisa mengambil hal-hal yang baik untuk kehidupanku. Berpacu dalam prestasi, dan banyak hal lain yang membuatku untuk tetap bersaing dengan  teman-taman yang sangat terampil. Sehingga tiba pada satu waktu, aku pernah terjatuh dan merasa diri tidak berguna lagi di dunia ini. Pasalnya, karena aku melihat teman-teman yang sangat baik dalam prestasi mereka. Engkau datang padaku dan bertanya apa yang sedang terjadi denganku. Padahal kala itu, aku bungkam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk berbicara. Dan yang sangat aku herankan !! Kenapa engkau mengetahui apa yang terjadi? Jelas sudah aku tidak menceritakan sesuatu pun. Tapi engkau mengerti ada sesuatu hal yang terjadi dengan nilai akademikku. Saat itu aku mendapat pelajaran yang sangat besar harganya dan sadar bahwa sebegitu dekatnya jiwa dan hati seorang ibu terhadap anakknya. Dengan lembut penuh sayang ibu terus mensupport(mendukung) dan tidak pernah bosan-bosan mendorongku untuk tetap semangat dan meyakini bahwa usaha akan sampai. Engkau banyak mengajari dan menasehatiku ibu, hingga ada satu kata yang sulit untuk aku lupakan, “ Anakku, orang-orang yang selalu berada di atas itu tidak akan pernah tahu bagaimana merasakan perjuangan, orang sukses itu, orang yang bangkit saat terjatuh dan berani bersaing di antara orang-orang ramai”. Iya, Tepat sekali, Ibu !! saat itulah aku mulai bangkit kembali dan merubah paradigma berpikirku. Kesuksesan bukan datang dari mereka-mereka yang luar biasa, akan tetapi datang dari mereka-mereka yang melakukan hal-hal yang luar biasa.
Kini gurat Dewasa  telah bingkai wajah dan sikapku. Bagaimana halmu di sana, Ibu ? baik ? Daku berharap engkau selalu dalam keadaan sehat wal’afiat dan semoga rahmat Allah selalu menyertai setiap langkahmu. Engkau tidak perlu khawatir dengan keadaanku di sini, Ibu. InsyaAllah, aku akan selalu menjaga pesanmu sebagaimana yang engkau amanahkan padaku saat pertama kalinya aku beranjak menuntut ilmu. Aku tidak akan pernah melupakannya, Bu.
Engkau mengamanahkanku untuk tetap istiqamah dalam menjaga auratku, terus mencetak prestasi, terus belajar dalam pendidikan dan iptek, dan tidak melupakanmu kala sudah sukses suatu saat nanti. Aku ingat semuanya Bu, aku ingat bagaimana nasihat itu terus kau berikan padaku sebelum berangkat. O iya, Aku ingat satu hal penting lagi, yaitu menjaga hati, engkau memberitahuku bahwa hati adalah segalanya, jika hati baik, InsyaAllah semuanya akan baik begitu juga sebaliknya. Hati adalah titik dari segala perbuatan. Aku mengerti, Ibu.
Sejujurnya aku teramat merindukan semua hal tentang ibu. Tapi cita-cita untuk peroleh mahabbah hakiki menghalangiku untuk pulang dan bertegur sapa denganmu. Nun jauh sebelum itu aku telah berniat dalam sekeping hati yang telah aku tutup rapat-rapat bahwa aku tidak pulang sebelum sukses. Hidup memang penuh pilihan, walau bagaimanapun tetap itulah pilihanku. Aku yakin itulah pilihan terbaikku !!
Didetik yang terus  meniggalkan sejuta kenangan, detik  inipun kan ku ciptakan sejarah pembaharuan yang mengharukan dalam kehidupan ku. Ibu, keseharian kita dahulu ada begitu banyak kesalahan, ada begitu banyak dosa, ada begitu banyak air mata dan kesedihan darimu karena aku.
Untuk itu, aku mohon maaf Bu, maaf atas segala kesalahan, keburukan dan dosa. Maafkan aku Ibu. Maaf.. Maaf.. Bagiku engkaulah pahlawan tanpa pamrih dan tanpa tanda jasa.
Wassalam, Aidatul Husna 

Love,
AH

No comments:

Post a Comment