Judulnya kok flashback ya? :D
Ada apa dengan tanggal 22 Desember 2012? Oke, saya punya memori manis pada tanggal tersebut. 22 Desember adalah Hari Ibu Nasional. Nah, tahun 2012 lalu saya ikut menulis surat untuk Ibu. Yang di adain oleh Fakultas Ekonomi Unsyiah. Saya ga tau pasti jumlah pesertanya berapa orang. Karena saya tahu info ini tepat 2 hari sebelum deadline. Jadi, kejar-kejaranlah dengan Deadline. Tapi, alhamdulillah usaha tidak sia-sia. Semua membuahkan hasil. Alhamdulillah saya masuk nominasi 3 besar. Alhamdulillah.(:
Oya, yang pasti saya tidak akan lupa mengucapkan terima kasih kepada kawan ini. Cut Sari Maylisa adalah salah satu kawan yang berjasa, telah mencoret-coretan tulisan ini.. Meskipun hanya sekali.. tapi itu juga cukup membantu.. Terima kasih cioo.. ^^
Oya, yang pasti saya tidak akan lupa mengucapkan terima kasih kepada kawan ini. Cut Sari Maylisa adalah salah satu kawan yang berjasa, telah mencoret-coretan tulisan ini.. Meskipun hanya sekali.. tapi itu juga cukup membantu.. Terima kasih cioo.. ^^
Berikut Puisi Saya persembahkan untuk Mimi (Ibu).
SEPUCUK SURAT UNTUK IBUNDA
TERSAYANG
Salam,
Teruntuk ibunda tercinta...
Masa
itu...
Aku masih amat teramat kecil. Masih ingatkah engkau Ibu ?
kala itu, aku sangat egois, sering mengeluh, menjengkelkannmu bahkan mengganggu
banyak kegiatan-kegiatan yang sangat berharga dalam hidupmu. Aku masih ingat
dengan kejadian ini, jika engkau hendak pergi ke sebuah acara bersama Ayah, aku
datang mencegahmu untuk tidak menghadiri
acara tersebut, karena bagiku itu tidak penting!!, beribu-ribu alasan yang Ibu
dan Ayah tawarkan untuk membujukku agar aku mengerti. Tapi, alasan itu tak juga
aku hiraukan. Selanjutnya, apa yang terjadi ? Dengan sangat sabar ibu.. Setelah
aku mencegahmu, engkau malah melelapkanku hingga aku benar-benar tertidur pulas.
Setelah engkau yakin aku benar sudah terlelap, di saat itu lah engkau baru akan
berangkat. Dahulu, kita banyak menghabiskan waktu bermain bersama. Engkau banyak
menceritakan padaku tentang menjadi orang sukses dunia akhirat, dan juga tidak
sedikit engkau mencontahkan mereka-mereka yang telah menggapai itu semua.
Beranjak masa-masa Remaja, aku mulai belajar banyak hal dan
sudah bisa mengambil hal-hal yang baik untuk kehidupanku. Berpacu dalam
prestasi, dan banyak hal lain yang membuatku untuk tetap bersaing dengan teman-taman yang sangat terampil. Sehingga
tiba pada satu waktu, aku pernah terjatuh dan merasa diri tidak berguna lagi di
dunia ini. Pasalnya, karena aku melihat teman-teman yang sangat baik dalam
prestasi mereka. Engkau datang padaku dan bertanya apa yang sedang terjadi
denganku. Padahal kala itu, aku bungkam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun
untuk berbicara. Dan yang sangat aku herankan !! Kenapa engkau mengetahui apa
yang terjadi? Jelas sudah aku tidak menceritakan sesuatu pun. Tapi engkau
mengerti ada sesuatu hal yang terjadi dengan nilai akademikku. Saat itu aku
mendapat pelajaran yang sangat besar harganya dan sadar bahwa sebegitu dekatnya
jiwa dan hati seorang ibu terhadap anakknya. Dengan lembut penuh sayang ibu
terus mensupport(mendukung) dan tidak pernah bosan-bosan mendorongku untuk
tetap semangat dan meyakini bahwa usaha akan sampai. Engkau banyak mengajari
dan menasehatiku ibu, hingga ada satu kata yang sulit untuk aku lupakan, “ Anakku, orang-orang yang selalu berada di
atas itu tidak akan pernah tahu bagaimana merasakan perjuangan, orang sukses
itu, orang yang bangkit saat terjatuh dan berani bersaing di antara orang-orang
ramai”. Iya, Tepat sekali, Ibu !! saat itulah aku mulai bangkit kembali dan
merubah paradigma berpikirku. Kesuksesan bukan datang dari mereka-mereka yang
luar biasa, akan tetapi datang dari mereka-mereka yang melakukan hal-hal yang
luar biasa.
Kini gurat Dewasa telah
bingkai wajah dan sikapku. Bagaimana halmu di sana, Ibu ? baik ? Daku berharap
engkau selalu dalam keadaan sehat wal’afiat dan semoga rahmat Allah selalu
menyertai setiap langkahmu. Engkau tidak perlu khawatir dengan keadaanku di
sini, Ibu. InsyaAllah, aku akan selalu menjaga pesanmu sebagaimana yang engkau
amanahkan padaku saat pertama kalinya aku beranjak menuntut ilmu. Aku tidak
akan pernah melupakannya, Bu.
Engkau mengamanahkanku untuk tetap istiqamah dalam menjaga
auratku, terus mencetak prestasi, terus belajar dalam pendidikan dan iptek, dan
tidak melupakanmu kala sudah sukses suatu saat nanti. Aku ingat semuanya Bu,
aku ingat bagaimana nasihat itu terus kau berikan padaku sebelum berangkat. O
iya, Aku ingat satu hal penting lagi, yaitu menjaga hati, engkau memberitahuku
bahwa hati adalah segalanya, jika hati baik, InsyaAllah semuanya akan baik
begitu juga sebaliknya. Hati adalah titik dari segala perbuatan. Aku mengerti,
Ibu.
Sejujurnya aku teramat merindukan semua hal tentang ibu.
Tapi cita-cita untuk peroleh mahabbah
hakiki menghalangiku untuk pulang dan bertegur sapa denganmu. Nun jauh
sebelum itu aku telah berniat dalam sekeping hati yang telah aku tutup
rapat-rapat bahwa aku tidak pulang sebelum sukses. Hidup memang penuh pilihan,
walau bagaimanapun tetap itulah pilihanku. Aku yakin itulah pilihan terbaikku
!!
Didetik yang terus
meniggalkan sejuta kenangan, detik
inipun kan ku ciptakan sejarah pembaharuan yang mengharukan dalam
kehidupan ku. Ibu, keseharian kita dahulu ada begitu banyak kesalahan, ada
begitu banyak dosa, ada begitu banyak air mata dan kesedihan darimu karena aku.
Untuk itu, aku mohon maaf Bu, maaf atas segala kesalahan,
keburukan dan dosa. Maafkan aku Ibu. Maaf.. Maaf.. Bagiku engkaulah pahlawan
tanpa pamrih dan tanpa tanda jasa.
Wassalam, Aidatul Husna
Love,
AH
No comments:
Post a Comment