![]() |
| (google) |
Terkadang kita terlalu
menyepelekan yang namanya persamaan. Banyak orang mengatakan tampil beda (baca:
berbeda) adalah inovatif. Sesuai dengan sebuah pernyataan yang cukup familiar
diantara kita “perbadaan adalah hikmah”.Itu cukup benar. Dengan ada perbedaanlah
tejadinya penemuan-penemuan spektakuler dunia. Tapi, sadar ga kita? Kalau kita
sangat jarang memperhatikan persamaan diantara sesama. Sebenarnya persamaan sesuatu
yang mendatangkan hikmah juga.
“aku ngafans banget
sama buku karangan-karangan dia”, “aku suka banget produk ini/itu”, “aku anak
ke 4 dari 5 bersaudara”, “aku sukan music genre ini”, “aku suka liat abang
senior itu”
“Oya? Aku juga..”
“Kok kita sama ya? Yauda
nanti kita cari tau sama-sama info itu yaa”
Akhirnya jadi saudara
atau teman kan?
Iya, sadar ga sadar,
kita bisa punya saudara baru yang di mulai dari sebuah kesamaan hobi dan kesukaan
terhadap sesuatu. Sebuah komunitas juga terbentuk diawali dengan kesamaan misi,
visi dan ide. Hancurnya sebuah komunitas karena tidak ada lagi persamaan
prinsip di dalamnya. Contoh: grub band tanah air yang sangat terkenal seperti
Peterpan, ST12, Cherrybelle, Coboy Junior dll bubar karena apa? Karena tidak
adanya kesamaan prinsip. Ketika awalnya honor antara vokalis, gitaris, drummer
dan penyayi latar disamakan, semua berjalan baik. Sedangkan pada saat di
bedakan semuanya hancur berantakan.
Seorang teman biasa berubah
status jadi teman dekat bermula dari kesamaan. Saya punya teman Perempuan
penggila novel dari SD, sedangkan saya masi membaca cerita dongeng ketika usia
itu. Namanya Kana. Saya mengenal novel dari kana ketika Tsanawiyah di sebuah
pondok pesantren MUQ Langsa. Masih teringat oleh saya, novel yang pertama
sekali saya baca adalah “dealova” karangan Dyan Nuranindya (2005). Semenjak memiliki
kesukaan yang sama, kami jadi teman dekat sampai sekarang. J
Seorang teman Laki-laki,
tanya “ aida anak keberapa dalam keluarga dari berapa saudara? Suka olahraga
apa?”. Saya jawab “anak ke-4 dari 5 saudara. Abang sudah meninggal. Jadi
sekarang anak ke-3 dari 4. Suka dengan basket”. Ga lama setelah itu, saya punya
olahraga favorit baru, badminton. “Wah, kita banyak kesamaan ya? Aku juga hobi
basket dan anak ke-3 dari 4 punya adek 1, cowok. Kalau aida adek cewek atau
cowok?” . “adek saya cewek, wah kebetulan ya?”. Bermula dari kesamaan itu, kami
berlanjut jadi teman dekat antara laki-laki dan perempuan, BF and GF. Haha :D .
Masa itu ya.. tidak untuk sekarang. Saya masih teringat terakhir kali kami
dekatnya hampir tamat sekolah Aliyah dan dia punya cita-cita (kesukaana) yang kami berdua punya perbedaan pandangan. Dari situ hubungan
kita, berubah jadi teman biasa. :D
Salah satu follower-following
di jejaring media sosial twitter mentweet “beda dukungan calon presiden,
sepasang kekasih pun terancam bubar”. Waw, waw, lagi-lagi karena perbedaan ya.
Semoga ga ada suami-istri yang begini yaa.. Meskipun ada. Semoga bisa sama-sama
mengatasi perbedaan keduanya.
Cerita lain, dari
seorang teman yang setahun lalu “hampir saja” menjadi keluarga broken home.
Tapi, Alhamdulillah. Semua terselesaikan dengan baik. Ibunya teman saya berprofesi
sebagai guru dan ayahnya bekerja sebagai jasa pengangkutan. Suatu hari ibunya
teman saya kena mengawas ujian anak-anak yang kebetulan pasangan pengawas dengan
bapak-bapak seumuran ibunya. Cerita demi cerita, keduanya memiliki jumlah anak
yang sama dan anak kedua mereka rupanya seumuran, begitu juga dengan anak ke-3
dan ke-4. Semenjak itulah, keduanya smsan layaknya anak-anak remaja usia SMP
yang baru saja mengenal lawan jenis. Singkat cerita, ibunya teman saya dan
bapak tersebut semakin hari semakin dekat. Bermula dari kesamaan profesi dan
latar belakang keluarga. Ibunya mulai bertingkah agak tidak menyukai profesi
ayahnya lagi. Dan rumah tangga Ayah-ibu teman saya untuk beberapa bulan kacau. Terakhir
teman ibunya yang menyelesaikan masalah ini, juga di bantu teman saya yang
mulai dewasa sebagai sulung dalam keluarganya. Alhamdulillah, selesai
masalahnya! Dan kembali keluarga ini menyamakan prinsip.
Ada persamaan ada pula
perbedaan. Perlu di ketahui keduanya sama-sama mendatangkan hikmah. Dari perbedaan
kita belajar untuk saling menghargai dan dari persamaan kita belajar untuk
saling bersatu.
Kita tentu tidak akan
pernah bisa bergabung dan bercekrama dalam frekuensi waktu yang lama bila di
antara kita ada yang berbeda. Seorang militer pasti sulit bergabung dengan
orang yang memiliki gerak lambat. Begitu seterusnya, kita akan bersama-sama
dengan orang yang seperti kita. Suami-istri pun begitu. Sebagaimana kita,
begitu juga calon pasangan kita. Itu jelas di dalam Al-qur’an surat An-Nur ayat
26.
Pasti kita akan berkumpul
dengan teman, sahabat, atau orang-orang yang memang sama-sama bisa membangun jaringan
lebih baik ke depannya. Perbedaan tetap akan menjadi titik awal sebuah ide
gemilang.
Semoga kita selalu berada dalam lingkungan yang baik, teman
yang baik juga saudara yang baik-baik. Semoga kita semua selalu dalam lindungan
dan petunjuk Allah. Amiin.
Love,
AH.
AH.

No comments:
Post a Comment